animasi

SELAMAT DATANG DI YAYASAN PONDOK PESANTREN NAWWARUL UYUN NW SERUMBUNG

Minggu, 04 Oktober 2015

CONTOH PTK

A.    Pendahuluan (Latar Belakang Masalah)
Al-Quran adalah kalam Allah yang disampaikan oleh malaikat Jibril kepada Nabi Muhammad Saw. sebagai pedoman hidup bagi seluruh manusia agar bisa selamat di dunia maupun akhirat. Al-Quran merupakan mukjizat terbesar yang diberikan Allah kepada Nabi Muhammad Saw. dan bagi orang yang membacanya akan mendapatkan pahala ibadah.
Dr. H. Muhammad Suma, MA, SH. dalam Tafsir Ahkam I mengatakan bahwa: “Betapapun awamnya seorang muslim dan muslimat, niscaya mereka tahu dan harus tahu bahwa al-Quran al-Karim (yang terdiri atas 30 juz, 114 surat, 6000 ayat lebih, 77.349 kalimat dan lebih dari 323.000 huruf) itu adalah sumber utama dan pertama agama Islam. Secara garis besar, al-Quran berisikan tentang aqidah (keimanan), akhlak, janji baik dan ancaman buruk (wa’ad dan wa’id), kisah atau sejarah, syariat (hukum), ilmu pengetahuan dan teknologi dan lain-lain” (Muhammad A. Summa; 1997: 1).
Setiap mu’min yakin, bahwa membaca al-Quran saja, sudah termasuk amal yang sangat mulia dan akan mendapat pahala yang berlipat ganda, sebab al-Quran adalah sebaik-baik bacaan bagi orang mu’min baik dikala senang maupun dikala susah, dikala gembira atau sedih. Terlebih membaca al-Quran itu bukan saja menjadi amal dan ibadah, tetapi juga menjadi obat dan penawar bagi orang yang gelisah jiwanya. Namun pada kenyataannya masih banyak muslim yang tidak mampu membaca al-Quran dengan baik bahkan tidak mampu membaca sama sekali. Ini sangat miris dan riskan bagi generasi Islam selanjutnya.
(Masalah: Fenomena di Kelas)
Dan itu pun terjadi pada siswa kelas VII Mts. Nawwarul Uyun NW Serumbung yang seharusnya sudah bisa dan lancar membaca al-Quran, karena pada jenjang Sekolah Dasar pasti sudah dipelajari dasar-dasarnya yang seharusnya pada tingkat SMP tinggal mendalami dan mengembangkannya. Di antara penyebabnya diduga karena tidak semua siswa seusia SMP atau sebelumnya rajin mengaji atau aktif di Madrasah Diniyah. Pada segi lain sering ditemukan kenyataan siswa yang terlihat malas dan tidak bersemangat jika belajar al-Quran. Kurangnya minat itu terlihat dari tidak ada gairah dan antusias jika disuruh membaca al-Quran, masih banyak yang acuh hanya diam saja, ada yang bercanda, bahkan ada yang mengobrol. Dan ketika disuruh seorang-seorang masih banyak yang jauh dari kaidah membaca al-Quranyang benar.
Ketiga permasalahan tersebut tidak bisa dipecahkan secara sekaligus, namun harus bertahap mulai dari tumbuhnya minat siswa untuk belajar al-Quran, penguasaan dasar-dasar membaca al-Quran seperti penguasaan huruf-huruf hijaiyah dan kemudian penerapan hukum-hukum (tajwid) membaca al-Quran.
(Identifikasi Masalah)
Fenomena seperti dikemukakan di atas membuat penulis sebagai calon pendidik khususnya pada bidang studi PAI menjadi resah dan berusaha mencari solusi yang efektif untuk mengatasinya. Dari kenyataan tersebut teridentifikasi tiga masalah yang muncul, yaitu: 1) rendahnya minat; 2) rendahnya kemampuan menguasai dasar-dasar al-Quran; 3) rendahnya kemampuan menguasai hukum-hukum membaca al-Quran. Setelah direnungkan dan dikaji berdasarkan teori yang ada, maka ditemukan beberapa faktor penyebab yang berhasil diidentifikasi, diantaranya: 1) metode dan media belajar kurang menarik dalam menumbuhkan minat siswa; 2) diduga metode yang digunakan dan suasana pembelajaran kurang menyebabkan daya hafal siswa meningkat; 3) teknik belajar yang diterapkan belum efektif mempercepat penerapan hukum-hukum membaca al-Quran. Sejalan dengan itu, maka terdapat beberapa alternatif solusi yang diperlukan, diantaranya: 1) diperlukan metode dan media baru yang dapat menumbuhkan minat belajar; 2) diperlukan metode atau teknik yang dapat meningkatkan kemampuan hafalan, dan 3) diperlukan teknik atau alat yang dapat memudahkan penerapan hukum-hukum membaca al-Quran.
(Teori Sebagai Argumen Tindakan Pemecahan)
Menurut teori, belajar akan lebih berhasil bila situasinya menyenangkan (Sagala; 2006:100). Proses belajar akan lebih baik jika siswa memiliki minat terhadap kegiatan belajar (Sutikno; 2009:16). Belajar hafalan dapat lebih baik hasilnya, jika disertai minat, sebab minat seperti menurut Kurt Singer, adalah suatu landasan yang paling meyakinkan untuk keberhasilan suatu proses belajar. Menurutnya lagi, jika siswa merasa ingin belajar, ia akan cepat mengerti dan mengingatnya (Singer; 1987:78). Edgar Dale yang terkenal dengan Kerucut Pengalaman (Cone of Experience) mengemukakan bahwa kemampuan manusia memperoleh ilmu pengetahuan atau pengalaman belajar seseorang diperoleh dari indera lihat sebanyak 75%, 13% melalui indera dengar, dan selebihnya melalui indera lainnya. Gabungan dari berbagai media yang ada pada multimedia memanfaatkan gabungan dari indera pada manusia untuk pencapaian suatu kompetensi dan tingkat pemahaman peserta didik.
Multimedia merupakan proses komunikasi interaktif berasaskan teknologi komputer yang menggabungkan penggunaan berbagai unsur media digital seperti teks,audio, grafik, animasi dan video untuk menyampaikan maklumat. Multimedia adalah kata gabungan yang merujuk banyak dan keberagaman alat atau perantara komunikasi. Multimedia juga boleh merujuk kepada penggunaan teknologi komputer untuk menciptakan, menyimpan dan menggunakan kandungan multimedia.
(Rencana Tindakan Pemecahan)
Atas dasar teori di atas, maka untuk pembelajaran Al-QuranHadits di Semester I Kelas VII Mts. Nawwarul Uyun NW Serumbung dirancang suatu upaya untuk meningkatkan minat belajar siswa dan kemampuan membaca al-Quran dengan menggunakan Multimedia Interaktif Macromedia Flash. Untuk memastikan proses dan keberhasilannya, akan diteliti melalui kegiatan Penelitian Tindakan Kelas dengan judul: 
UPAYA MENINGKATKAN MINAT DAN KEMAMPUAN MEMBACA AL-QURAN MELALUI MULTIMEDIA INTERAKTIF MACROMEDIA FLASH (Penelitian Tindakan Kelas Pada Mata Pelajaran Al-QuranHaditsdi Kelas VII Mts. Nawwarul Uyun NW Serumbung)

B.     Perumusan Masalah
Masalah yang menjadi fokus utama penelitian ini adalah: “adakah proses belajar melalui Multimedia Interaktif Macromedia Flash dapat meningkatkan minat belajar dan kemampuan membaca al-Quran siswa kelas VII Mts. Nawwarul Uyun NW Serumbung?”
Sejalan dengan fokus rumusan masalah penelitian tersebut, dan sejalan dengan model penelitian kualitatif yang dipilih, secara lebih rinci diajukan pertanyaan penelitian sebagai berikut:
1.      Bagaimana setting (latar alamiah) kelas VII Mts. Nawwarul Uyun NW Serumbung saat pembelajaran dengan menggunakan Multimedia Interaktif Macromedia Flash?
2.      Bagaimana tingkat ketepatan proses pembelajaran dengan Multimedia Interaktif Macromedia Flash pada pembelajaran Al-QuranHadits di kelas VII Mts. Nawwarul Uyun NW Serumbung?
3.      Bagaimana kepastian hasil peningkatan minat dan kemampuan membaca al-Quran siswa setelah pembelajaran melalui Multimedia Interaktif Macromedia Flash?

C.    Tujuan Penelitian
Sejalan dengan pertanyaan penelitian di atas, maka penelitian ini bertujuan untuk:
1.      Memastikan bahwa setting kelas VII Mts. Nawwarul Uyun NW Serumbung kondusif pada saat pelaksanaan pembelajaran melalui Multimedia Interaktif Macromedia Flash;
2.      Memastikan bahwa proses pembelajaran dengan Multimedia Interaktif Macromedia Flash di kelas VII Mts. Nawwarul Uyun NW Serumbung berjalan tepat sesuai dengan teori;
3.      Memastikan terdapat peningkatan minat belajar dan kemampuan membaca al-Quran siswa kelas VII Mts. Nawwarul Uyun NW Serumbung

D.    Manfaat Penelitian:
1.      Manfaat teoritis:
a.       Hasil Penelitian ini diharapkan dapat meningkatkan profesionalisme guru dalam proses pembelajaran;
b.      Dengan dilakukannya Penelitian Tindakan Kelas semakin menumbuhkan proses kreatif dan inovasi pembelajaran, khususnya dalam pembelajaran Al-QuranHadits.



2.      Manfaat praktis:
a.       Hasil penelitian ini diharapkan dapat meningkatkan minat dan hasil belajar siswa, dalam bidang studi Al-QuranHadits, khususnya kemampuan membaca al-Quran;
b.      Hasil penelitian diharapkan dapat menambah kepastian dan keyakinan guru bahwa media yang digunakan dilakukan dengan proses yang benar dan hasil yang baik.

E.     Kajian Pustaka (Kerangka Pemikiran)
1.      Multimedia Interaktif Macromedia Flash; kelebihan media, dan Syntax-nya: (konsep X)
a.       Multimedia adalah media yang menggabungkan dua unsur atau lebih media yang terdiri dari teks, grafis, gambar, foto, audio, video dan animasi secara terintegrasi. Multimedia terbagi menjadi dua kategori, yaitu:
1)      Multimedia linier; yaitu multimedia yang tidak dilengkapi dengan alat pengontrol apapun yang dapat dioperasikan oleh pengguna. Multimedia ini berjalan sekuensial (berurutan), contohnya: TV dan film.
2)      Multimedia interaktif adalah suatu multimedia yang dilengkapi dengan alat pengontrol yang dapat dioperasikan oleh pengguna, sehingga pengguna dapat memilih apa yang dikehendaki untuk proses selanjutnya.
b.      Macromedia Flash adalah program aplikasi yang bisa digunakan untuk membuat sebuah animasi sederhana sampai sebuah aplikasi web interaktif yang kompleks, seperti sebuah toko online. Dapat membuat media aplikasi Flash yang diperkaya dengan gambar atau foto, sound, dan video. Flash memiliki banyak fitur yang membuatnya powerful tapi mudah digunakan, seperti komponen user interface yang draganddrop, ActionScript untuk membuat aplikasi menjadi interaktif, dan efek-efek khusus yang dapat ditambahkan ke obyek.
c.       Langkah-langkah (Syntax) penggunaan Macromedia Flash dalam pembelajaran:
1)      Peneliti menyiapkan bahan berupa software macromedia flash yang sudah dimasukkan materi pembelajaran, laptop dan proyektor yang nantinya digunakan di kelas;
2)      Peneliti menata ruangan sedemikian rupa (agar siswa terfokus terhadap media yang disajikan oleh guru);
3)      Peneliti melakukan penilaian, penyimpulan, memberi masukan dan menutup pelajaran.
2.      Pengertian, faktor yang mempengaruhi, dan indikator Minat (konsep Y.1):
a.       Minat adalah kecenderungan yang tetap untuk memperhatikan dan mengenang sesuatu. Dalam pengertian lain minat didefinisikan sebagai suatu rasa lebih suka dan rasa keterikatan pada suatu hal atau aktivitas tanpa ada yang menyuruh (Sutikno; 2009: 16). Menurut Moh. Surya minat yaitu seberapa besar individu merasa suka atau tidak suka kepada suatu rangsangan (Surya; 2004:71).
b.      Minat dapat dipelajari dan ditumbuhkan dengan menciptakan pembelajaran menjadi menarik, menyenangkan dan memuaskan (Singer; 1987:78).
c.       Minat merupakan landasan pokok untuk keberhasilan suatu proses belajar; jika seorang murid memiliki minat, rasa ingin belajar, maka akan cepat mengerti dan mengingatnya (hafal) (Singer; 1987:78). Hal tersebut didasarkannya pada pernyataan terkenal Zulliger, seorang tokoh psikoanalitis yang menyatakan bahwa: “rasa takut akan membuat orang menjadi bodoh!” (Singer; 1987:4).
d.      Minat ditandai dengan adanya beberapa indikasi seperti: 1) Perhatian, memperhatikan dengan antusias; 2) hasrat bertanya; 3) curiousity: atau  rasa ingin tahu; (Singer; 1987: 79-84); 4) perasaan senang; 5) kepuasan (Sutikno; 2009:16).
3.      Pengertian, faktor yang mempengaruhi, dan indikator kemampuan membaca al-Quran: (konsep Y.2)
a.       Kemampuan menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia adalah kesanggupan, kecakapan, kekuatan.Membaca adalah aktivitas yang kompleks yang melibatkan berbagai faktor yang datangnya dari dalam diri pembaca dan faktor luar. Selain itumembaca juga dapat dikatakan sebagaijenis kemampuan manusia sebagaiproduk belajar dari lingkungan danbukan kemampuan yang bersifat instingatau naluri yang dibawa sejaklahir(Nur Hadi; 1978: 123).
b.      Menurut Sofhah Sulistyowati, kegiatan membaca merupakansesuatu yang sangat penting bagi setiap pelajar, dimana dengan membacasecara teratur ia akan dapat menyerap gagasan, menambah wawasan,bahkan bisa menjadikan sebagai hiburan serta menambah semangat.Dari beberapa definisi diatas, dapatdisimpulkan bahwakemampuan membaca al-Quran adalah seberapa jauh santri dalammelihat dan membaca ayat-ayat al-Quran dengan melisankan atau dalamhati dan mengeja serta melafalkanapa yang tertulis di dalamnya (termasuk pula siswa) (Sofchah Sulistyowati; 2001: 61).
c.       Secara garis besar faktor-faktor yang mempengaruhi belajarbanyak jenisnya, namun dapat digolongkan menjadi dua faktor, antaralain:
a)      Faktor intern (dari dalam)
Adalah faktor yang diperoleh dari dalam, yaitu faktor yang adapada diri seorang anak itusendiri, faktorinternini dibagi menjadi tigasub faktor, yaitu faktor jasmaniah,faktor psikologi, dan faktor fisik (Slameto; 1995: 54).
1)      Faktor Jasmaniah
Faktor jasmani ini meliputi, faktor kesehatan. Sehat berartidalam keadaan baik, segenap badan bagian-bagiannya bebas daripenyakit, kesehatan adalah keadaan atau hal sehat dankesehatanini berpengaruh terhadap belajarnya.Proses belajar seseorang akan terganggu jika kesehatanyaterganggu. Cacat tubuh, yaitu suatu yang menyebabkan kurangbaik dan sempurna mengenai tubuh baik berupa kebutaan, tuli,patah kaki, tangan dan lain-lain.Cacat tubuh ini berpengaruh padabelajar.Keadaan jasmani pada umumnya dapat dikatakan melatarbelakangi aktivitas belajar, karenakeadaan jasmani yang sehat dansegar akan berpengaruh lain terhadap jasmani yang lelah (Sumardi Suryabrata; 1986: 251).
2)      Faktor Psikologi
Faktor psikologis dapat dibedakan menjadi bakat, minat,kecerdasan, motivasi, dankemampuan kognitif. Sedangkanmenurut Slameto dalam bukunyaBelajar dan Faktor-Faktor YangMempengaruhinyamembedakan sekurang-kurangnya ada 7 faktoryang tergolong dalam faktor psikologis (Slameto; 1995: 55).
3)      Inteligensi
Yaitu kecakapan untuk menghadapi dan menyesuaikankeadaan ke dalam situasi yangbaru dengan cepat dan efektif,mengetahui atau menggunakan konsep-konsep yang abstrak secaraefektif, mengetahui relasi dan mempelajarinya dengan cepat. Anakyang intelegensi tinggi akan lebih cepat menangkap pelajarandengan baik, sehingga ini akan sangat mempengaruhi.
4)      Perhatian
Perhatian menurut Imam Ghozali yang dikutip Drs.Slameto adalah keaktifan jiwa yangdipertinggi, jiwa itupunsemata-mata tertuju pada suatuobyek, sehingga untuk menjaminhasil belajar yang baikdiperlukan perhatian terhadap bahan yangdipelajari.
5)      Bakat
Bakat adalah kemampuan untuk belajar, dimana akanterealisasi menjadi kecakapan yangnyata sesudah belajar atauberlatih, sehingga bakat mempengaruhi belajar, jika bahanpelajaran sesuai dengan bakatnyamaka hasilnya lebih baik.
6)      Motif
Erat sekali dengan tujuan yang akan dicapai, sehinggamotif yang kuat sangat diperlukandalam belajar, baik denganpelatihan-pelatihan, pembiasaan-pembiasaan atau pengaruhlingkungan.
7)      Kesiapan
Adalah kesedian untuk memberirespons atau bereaksi, jikaanak sudah ada kesiapan makahasil belajarnya juga baik.
8)      Minat
Adalah kecenderungan yang tetap untuk memperhatikandan mengenang beberapakegiatan.Jika bahan pelajaan yangdiberikan sesuai dengan minat siswaatau anak maka hasilnya akanbaik.
9)      Kematangan
Adalah suatu tingkat ataufase dalam perkembanganseseorang dimana alat-alat tubuhnyasudah siap untukmelaksanakan kecakapan baru.
10)  Faktor kelelahan
Walaupun sulit dibedakan, kelelahan sesorang dapatdibedakan menjadi dua macam yaitujasmani dan rohani. Padajasmani terlihat dengan lemahlunglainya tubuh dan timbulkecenderungan untuk membaringkan tubuhnya. Sedangkan rohanidilihat dengan adanya kelesuan dan kebosanan sehingga minat dandorongan menghasilkan sesuatu yang hilang.
b)      Faktor ekstern
Slameto dalam bukunya mengelompokkan menjadi tiga faktoryaitu faktor keluarga,sekolah, dan masyarakat.
1)      Faktor keluarga, bagaimana cara orangtua mendidik, relasi antara anggota keluarga, suasana rumah tangga, dan keadaan ekonomi keluarga.
2)      Faktor sekolah, mencakup metode mengajar, kurikulum, relasi guru dengan siswa, siswa dengan siswa, disiplin sekolah, pelajaran, waktu sekolah, dan lain-lain.
3)      Faktor masyarakat, antara lain seberapa jauh kegiatan anak dalam masyarakat, media masa, teman bergaul, bentuk kehidupanmasyarakat, dan lain-lain.
Cara orangtua mendidik anaknya dalam membaca al-Quransangat berpengaruh, karena merupakan lembaga pendidikan yangpertama dan utama. Keluargaberperan sangat dominan dalamkeberhasilan anak.
d.      Ada beberapa kriteria yang digunakan untuk menilai kemampuan membaca al-Quranadalah:
a)      Menguasai makhorijul huruf, yaitu keluarnya bunyi huruf darimulut.
b)      Menguasai tajwid, antara lain hukum nun mati atau tanwin (idzhar halqi, ikhfa haqiqi, idgham bighunnah, idgam bila ghunnah, iqlab), hukum mim sukun (idgham mimi, idzhar syafawi, ikhfa syafawi) ghunnah musyaddadah, mad, lafal jalalah, qalqalah, al qamariyah dan syamsiyah, dan hukum tajwid lainya.
c)      Benar dan lancar
d)     Tartil, yaitu membaca dengan pelan-pelan perhuruf (Dachlan Salim Zarkasi; 1978).
Dari kriteria di atas penelitimenggunakan tiga indikator yaitu:
a)      Kelancaran
Kelancaran berasal dari kata lancar yang diberi imbuhan ke danan yang berarti cepat,kencang (tidak tersangkut-sangkut), tidaktersendat-sendat (Depdikbud; 2005: 465). Maksudnya adalah dalam membaca al-Quran anakdapat membaca lancar, tidak tersendat-sendat, tidak tersangku-sangkut,sehingga kelancaran dikatakansebagai salah satu indikatorkemampuan membaca al-Quran siswa.
b)      Kafasihan
Fasih adalah susunan kata-katayang indah dan tidak terdapatkejanggalan dalammenyebutkan huruf (M. Shodiq; 1991: 88).Fasih sangat berkaitandengan pengucapan lisan danmakharijul huruf,sebagaimana arti katafasih itu berasal dari katafashahayang artinya berbicara dengan fasih,peta lidah (Mahmud Yunus; 1990: 318).Anak dikatakan mampu membaca al-Quran apabila iadapat berbicara dan membaca dengan fasih.Tingkat kefasihan dalam membaca al-Quran ada empatmacam, sebagaimana yang telah disepakati oleh ahli tajwid, antaralain:
1)      Tahqiq; yaitu membaca al-Quran dengan menempatkan hak-hakhuruf (makharijul huruf, sifatul huruf, mad, qosr, tarqiq, tahkim,dsb.) yang semestinya, sambilmencermati/meresapi arti danmaknanyabagi yang telah mampu.
2)      Tartil; membaca al-Quran dengan berlahan-lahan (tidak tergesa-gesa) sambil mencermati/meresapiarti dan makna bagi yang telahmampu.
3)      Tadwir; membaca al-Quran dengan sedang, antara cepat danperlahan-lahan.
4)      Hadr; membaca al-Quran dengan cepat.
Keempat cara membaca al-Quran tersebut wajibmenggunakan tajwid dengan menyesuaikan bacaanya (tahqiq, tartil, tadwir, dan hadr) (Qomari Sholeh: 10).
c)      Penguasaan Tajwid
Tajwid menurut bahasa(etimologi) adalah mendatangkan ataumembaca dengan baik, sedang menurut Hasani Syaikh Usman ilmutajwid adalah:Ilmu untuk mengetahui cara mengucapkan kalimat-kalimat al-Quran (Hasani Syaikh Usman: 49).
(Asumsi hubungan antara tindakan dengan peningkatan minat dan kemampuan membacaal-Quran)
Ada pendapat beberapa ahli mengenai asumsi teoretik yang menyatakan bahwa minat belajar sesuatu dapat ditumbuhkan oleh guru dengan menciptakan model belajar yang menarik, dan jika siswa belajar disertai minat yang baik, maka akan mudah mengerti (paham) dan mudah hafal, diantaranya:
1. Minat dapat dipelajari dan ditumbuhkan oleh guru dengan menciptakan pembelajaran menjadi menarik, menyenangkan dan memuaskan (Singer; 1987:78).
2. Minat merupakan landasan pokok untuk keberhasilan suatu proses belajar; jika seorang murid memiliki minat, rasa ingin belajar, maka akan cepat mengerti dan mengingatnya lebih baik atau hafal (Singer;1987:78).
3. Menurut Moh. Surya, guru harus berusaha menciptakan rangsangan yang menarik minat siswa, berupa penampilan menarik, menggunakan berbagai metode dan teknik, serta menciptakan suasana kelas yang menyenangkan. Sesuatu yang diminati akan lebih menarik perhatian; dengan perhatian yang besar siswa akan melakukan pengamatan yang lebih baik; sehingga proses dan hasil pembelajaran lebih berhasil (Surya; 2004:72)
Atas dasar asumsi seperti di atas, maka dapat ditarik simpulan, berupa dugaan sementara atas hipotesis tindakan: bahwa “penggunaan Multimedia Interaktif Macromedia Flashyang menarik dan menyenangkan diduga dapat meningkatkan minat belajar siswa, dan dengan minat yang tinggi dan suasana pembelajaran yang menyenangkan dapat meningkatkan pemahaman siswa agar dapat dengan cepat menerapkannya dalam membaca al-Quran”.
(Standar keberhasilan minat dan kemampuan membacaal-Quran)
Atas dasar definisi operasional di atas, ditetapkan standar keberhasilan tindakan mengenai minat dan kemampuan membaca sebagai hasil suatu tindakan, sebagai berikut:
1.      Keberhasilan meningkatnya minat diukur dengan tiga indikator:
a.       Perhatian, memperhatikan dengan antusias;
b.      Curiousity: atau  rasa ingin tahu;
c.       Adanya perasaan senang; merasa puas setelah belajar.    
2.      Keberhasilan meningkatnya kemampuan membaca ditandai dengan:
a.       Kelancaran;
b.      Kafasihan; dan
c.       Penguasaan tajwid.
Untuk lebih memudahkan pemahaman, secara skematik kerangka teori dan logika pemikiran mengenai hubungan antara konsep tindakan dan konsep masalah yang dipecahkan, dapat dilihat pada gambar bagan sebagai berikut:

Tidak ada komentar:

Posting Komentar