A.
Pendahuluan
(Latar Belakang Masalah)
Al-Quran adalah kalam
Allah yang disampaikan oleh malaikat Jibril kepada Nabi Muhammad Saw. sebagai
pedoman hidup bagi seluruh manusia agar bisa selamat di dunia maupun akhirat. Al-Quran merupakan mukjizat terbesar
yang diberikan Allah kepada Nabi Muhammad Saw. dan bagi orang yang membacanya
akan mendapatkan pahala ibadah.
Dr. H. Muhammad
Suma, MA, SH. dalam Tafsir Ahkam I
mengatakan bahwa: “Betapapun awamnya seorang muslim dan muslimat, niscaya
mereka tahu dan harus tahu bahwa al-Quran
al-Karim (yang terdiri atas 30 juz, 114 surat, 6000 ayat lebih, 77.349
kalimat dan lebih dari 323.000 huruf) itu adalah sumber utama dan pertama agama
Islam. Secara garis besar, al-Quran
berisikan tentang aqidah (keimanan), akhlak, janji baik dan ancaman buruk (wa’ad
dan wa’id), kisah atau sejarah, syariat (hukum), ilmu pengetahuan dan
teknologi dan lain-lain” (Muhammad A. Summa; 1997: 1).
Setiap mu’min
yakin, bahwa membaca al-Quran saja,
sudah termasuk amal yang sangat mulia dan akan mendapat pahala yang berlipat
ganda, sebab al-Quran adalah sebaik-baik
bacaan bagi orang mu’min baik dikala
senang maupun dikala susah, dikala gembira atau sedih. Terlebih membaca al-Quran itu bukan saja menjadi amal dan
ibadah, tetapi juga menjadi obat dan penawar bagi orang yang gelisah jiwanya.
Namun pada kenyataannya masih banyak muslim yang tidak mampu membaca al-Quran dengan baik bahkan tidak mampu
membaca sama sekali. Ini sangat miris dan riskan bagi generasi Islam
selanjutnya.
(Masalah: Fenomena di Kelas)
Dan itu pun
terjadi pada siswa kelas VII Mts. Nawwarul Uyun NW Serumbung yang seharusnya sudah
bisa dan lancar membaca al-Quran,
karena pada jenjang Sekolah Dasar pasti sudah dipelajari dasar-dasarnya yang
seharusnya pada tingkat SMP tinggal mendalami dan mengembangkannya. Di antara
penyebabnya diduga karena tidak semua siswa seusia SMP atau sebelumnya rajin
mengaji atau aktif di Madrasah Diniyah. Pada segi lain sering ditemukan
kenyataan siswa yang terlihat malas dan tidak bersemangat jika belajar al-Quran. Kurangnya minat itu terlihat
dari tidak ada gairah dan antusias jika disuruh membaca al-Quran, masih banyak yang acuh hanya diam saja, ada yang
bercanda, bahkan ada yang mengobrol. Dan ketika disuruh seorang-seorang masih
banyak yang jauh dari kaidah membaca al-Quranyang benar.
Ketiga
permasalahan tersebut tidak bisa dipecahkan secara sekaligus, namun harus
bertahap mulai dari tumbuhnya minat siswa untuk belajar al-Quran, penguasaan dasar-dasar membaca al-Quran seperti penguasaan huruf-huruf hijaiyah dan kemudian
penerapan hukum-hukum (tajwid) membaca al-Quran.
(Identifikasi Masalah)
Fenomena seperti
dikemukakan di atas membuat penulis sebagai calon pendidik khususnya pada bidang
studi PAI menjadi resah dan berusaha mencari solusi yang efektif untuk mengatasinya.
Dari kenyataan tersebut teridentifikasi tiga masalah yang muncul, yaitu: 1)
rendahnya minat; 2) rendahnya kemampuan menguasai dasar-dasar al-Quran; 3) rendahnya kemampuan
menguasai hukum-hukum membaca al-Quran.
Setelah direnungkan dan dikaji berdasarkan teori yang ada, maka ditemukan
beberapa faktor penyebab yang berhasil diidentifikasi, diantaranya: 1) metode
dan media belajar kurang menarik dalam menumbuhkan minat siswa; 2) diduga
metode yang digunakan dan suasana pembelajaran kurang menyebabkan daya hafal
siswa meningkat; 3) teknik belajar yang diterapkan belum efektif mempercepat
penerapan hukum-hukum membaca al-Quran.
Sejalan dengan itu, maka terdapat beberapa alternatif solusi yang diperlukan,
diantaranya: 1) diperlukan metode dan media baru yang dapat menumbuhkan minat
belajar; 2) diperlukan metode atau teknik yang dapat meningkatkan kemampuan
hafalan, dan 3) diperlukan teknik atau alat yang dapat memudahkan penerapan
hukum-hukum membaca al-Quran.
(Teori Sebagai Argumen Tindakan Pemecahan)
Menurut teori,
belajar akan lebih berhasil bila situasinya menyenangkan (Sagala; 2006:100).
Proses belajar akan lebih baik jika siswa memiliki minat terhadap kegiatan
belajar (Sutikno; 2009:16). Belajar hafalan dapat lebih baik hasilnya, jika
disertai minat, sebab minat seperti menurut Kurt Singer, adalah suatu landasan
yang paling meyakinkan untuk keberhasilan suatu proses belajar. Menurutnya
lagi, jika siswa merasa ingin belajar, ia akan cepat mengerti dan mengingatnya
(Singer; 1987:78). Edgar Dale yang terkenal dengan Kerucut Pengalaman (Cone
of Experience) mengemukakan bahwa kemampuan manusia memperoleh ilmu
pengetahuan atau pengalaman belajar seseorang diperoleh dari indera lihat
sebanyak 75%, 13% melalui indera dengar, dan selebihnya melalui indera lainnya.
Gabungan dari berbagai media yang ada pada multimedia memanfaatkan gabungan
dari indera pada manusia untuk pencapaian suatu kompetensi dan tingkat
pemahaman peserta didik.
Multimedia
merupakan proses komunikasi interaktif berasaskan teknologi komputer yang
menggabungkan penggunaan berbagai unsur media digital seperti teks,audio,
grafik, animasi dan video untuk menyampaikan maklumat. Multimedia adalah
kata gabungan yang merujuk banyak dan keberagaman alat atau perantara
komunikasi. Multimedia juga boleh merujuk kepada penggunaan teknologi komputer
untuk menciptakan, menyimpan dan menggunakan kandungan multimedia.
(Rencana Tindakan Pemecahan)
Atas dasar teori
di atas, maka untuk pembelajaran Al-QuranHadits
di Semester I Kelas VII Mts. Nawwarul Uyun NW Serumbung dirancang suatu upaya untuk
meningkatkan minat belajar siswa dan kemampuan membaca al-Quran dengan menggunakan Multimedia Interaktif Macromedia Flash.
Untuk memastikan proses dan keberhasilannya, akan diteliti melalui kegiatan
Penelitian Tindakan Kelas dengan judul:
UPAYA MENINGKATKAN MINAT DAN KEMAMPUAN
MEMBACA AL-QURAN MELALUI
MULTIMEDIA INTERAKTIF MACROMEDIA FLASH (Penelitian Tindakan Kelas Pada Mata
Pelajaran Al-QuranHaditsdi Kelas VII Mts. Nawwarul Uyun NW Serumbung)
B.
Perumusan
Masalah
Masalah yang
menjadi fokus utama penelitian ini adalah: “adakah proses belajar melalui Multimedia
Interaktif Macromedia Flash dapat meningkatkan minat belajar dan
kemampuan membaca al-Quran siswa
kelas VII Mts. Nawwarul Uyun NW Serumbung?”
Sejalan dengan
fokus rumusan masalah penelitian tersebut, dan sejalan dengan model penelitian
kualitatif yang dipilih, secara lebih rinci diajukan pertanyaan penelitian
sebagai berikut:
1.
Bagaimana setting
(latar alamiah) kelas VII Mts. Nawwarul Uyun NW Serumbung saat pembelajaran dengan
menggunakan Multimedia Interaktif Macromedia Flash?
2.
Bagaimana
tingkat ketepatan proses pembelajaran dengan Multimedia Interaktif
Macromedia Flash pada pembelajaran Al-QuranHadits
di kelas VII Mts. Nawwarul Uyun NW Serumbung?
3.
Bagaimana
kepastian hasil peningkatan minat dan kemampuan membaca al-Quran siswa setelah pembelajaran melalui Multimedia Interaktif
Macromedia Flash?
C.
Tujuan
Penelitian
Sejalan dengan
pertanyaan penelitian di atas, maka penelitian ini bertujuan untuk:
1.
Memastikan
bahwa setting kelas VII Mts. Nawwarul Uyun NW Serumbung kondusif pada saat
pelaksanaan pembelajaran melalui Multimedia Interaktif Macromedia Flash;
2.
Memastikan
bahwa proses pembelajaran dengan Multimedia Interaktif Macromedia Flash
di kelas VII Mts. Nawwarul Uyun NW Serumbung berjalan tepat sesuai dengan teori;
3.
Memastikan
terdapat peningkatan minat belajar dan kemampuan membaca al-Quran siswa kelas VII Mts. Nawwarul Uyun NW Serumbung
D.
Manfaat
Penelitian:
1. Manfaat teoritis:
a.
Hasil
Penelitian ini diharapkan dapat meningkatkan profesionalisme guru dalam proses pembelajaran;
b.
Dengan
dilakukannya Penelitian Tindakan Kelas semakin menumbuhkan proses kreatif dan
inovasi pembelajaran, khususnya dalam pembelajaran Al-QuranHadits.
2. Manfaat praktis:
a.
Hasil
penelitian ini diharapkan dapat meningkatkan minat dan hasil belajar siswa,
dalam bidang studi Al-QuranHadits,
khususnya kemampuan membaca al-Quran;
b.
Hasil
penelitian diharapkan dapat menambah kepastian dan keyakinan guru bahwa media
yang digunakan dilakukan dengan proses yang benar dan hasil yang baik.
E.
Kajian
Pustaka (Kerangka Pemikiran)
1.
Multimedia
Interaktif Macromedia Flash; kelebihan media, dan Syntax-nya:
(konsep X)
a.
Multimedia
adalah media yang menggabungkan dua unsur atau lebih media yang terdiri dari
teks, grafis, gambar, foto, audio, video dan animasi secara
terintegrasi. Multimedia terbagi menjadi dua kategori, yaitu:
1)
Multimedia
linier; yaitu multimedia yang tidak dilengkapi dengan alat pengontrol apapun
yang dapat dioperasikan oleh pengguna. Multimedia ini berjalan sekuensial
(berurutan), contohnya: TV dan film.
2)
Multimedia
interaktif adalah suatu multimedia yang dilengkapi dengan alat pengontrol yang
dapat dioperasikan oleh pengguna, sehingga pengguna dapat memilih apa yang
dikehendaki untuk proses selanjutnya.
b.
Macromedia
Flash adalah program aplikasi yang bisa digunakan
untuk membuat sebuah animasi sederhana sampai sebuah aplikasi web interaktif
yang kompleks, seperti sebuah toko online. Dapat membuat media aplikasi Flash
yang diperkaya dengan gambar atau foto, sound, dan video. Flash
memiliki banyak fitur yang membuatnya powerful tapi mudah digunakan,
seperti komponen user interface yang draganddrop, ActionScript untuk
membuat aplikasi menjadi interaktif, dan efek-efek khusus yang dapat ditambahkan
ke obyek.
c.
Langkah-langkah
(Syntax) penggunaan Macromedia Flash dalam pembelajaran:
1)
Peneliti
menyiapkan bahan berupa software macromedia flash yang sudah dimasukkan
materi pembelajaran, laptop dan proyektor yang nantinya digunakan di kelas;
2)
Peneliti menata
ruangan sedemikian rupa (agar siswa terfokus terhadap media yang disajikan oleh
guru);
3)
Peneliti
melakukan penilaian, penyimpulan, memberi masukan dan menutup pelajaran.
2.
Pengertian,
faktor yang mempengaruhi, dan indikator Minat (konsep Y.1):
a.
Minat adalah
kecenderungan yang tetap untuk memperhatikan dan mengenang sesuatu. Dalam
pengertian lain minat didefinisikan sebagai suatu rasa lebih suka dan rasa
keterikatan pada suatu hal atau aktivitas tanpa ada yang menyuruh (Sutikno;
2009: 16). Menurut Moh. Surya minat yaitu seberapa besar individu merasa suka
atau tidak suka kepada suatu rangsangan (Surya; 2004:71).
b.
Minat dapat
dipelajari dan ditumbuhkan dengan menciptakan pembelajaran menjadi menarik,
menyenangkan dan memuaskan (Singer; 1987:78).
c.
Minat merupakan
landasan pokok untuk keberhasilan suatu proses belajar; jika seorang murid
memiliki minat, rasa ingin belajar, maka akan cepat mengerti dan mengingatnya
(hafal) (Singer; 1987:78). Hal tersebut didasarkannya pada pernyataan terkenal
Zulliger, seorang tokoh psikoanalitis yang menyatakan bahwa: “rasa takut akan
membuat orang menjadi bodoh!” (Singer; 1987:4).
d.
Minat
ditandai dengan adanya beberapa indikasi seperti: 1) Perhatian, memperhatikan
dengan antusias; 2) hasrat bertanya; 3) curiousity: atau rasa ingin tahu; (Singer; 1987: 79-84); 4)
perasaan senang; 5) kepuasan (Sutikno; 2009:16).
3.
Pengertian,
faktor yang mempengaruhi, dan indikator kemampuan membaca al-Quran: (konsep Y.2)
a.
Kemampuan
menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia adalah kesanggupan, kecakapan, kekuatan.Membaca
adalah aktivitas yang kompleks yang melibatkan berbagai faktor yang datangnya
dari dalam diri pembaca dan faktor luar. Selain itumembaca juga dapat dikatakan
sebagaijenis kemampuan manusia sebagaiproduk belajar dari lingkungan danbukan
kemampuan yang bersifat instingatau naluri yang dibawa sejaklahir(Nur Hadi; 1978:
123).
b.
Menurut
Sofhah Sulistyowati, kegiatan membaca merupakansesuatu yang sangat penting bagi
setiap pelajar, dimana dengan membacasecara teratur ia akan dapat menyerap
gagasan, menambah wawasan,bahkan bisa menjadikan sebagai hiburan serta menambah
semangat.Dari beberapa definisi diatas, dapatdisimpulkan bahwakemampuan membaca
al-Quran adalah seberapa jauh santri
dalammelihat dan membaca ayat-ayat al-Quran
dengan melisankan atau dalamhati dan mengeja serta melafalkanapa yang tertulis
di dalamnya (termasuk pula siswa) (Sofchah Sulistyowati; 2001: 61).
c.
Secara garis
besar faktor-faktor yang mempengaruhi belajarbanyak jenisnya, namun dapat
digolongkan menjadi dua faktor, antaralain:
a)
Faktor intern
(dari dalam)
Adalah faktor yang diperoleh dari dalam, yaitu faktor yang adapada diri
seorang anak itusendiri, faktorinternini dibagi menjadi tigasub faktor,
yaitu faktor jasmaniah,faktor psikologi, dan faktor fisik (Slameto; 1995: 54).
1)
Faktor
Jasmaniah
Faktor jasmani ini meliputi, faktor kesehatan. Sehat berartidalam
keadaan baik, segenap badan bagian-bagiannya bebas daripenyakit, kesehatan
adalah keadaan atau hal sehat dankesehatanini berpengaruh terhadap
belajarnya.Proses belajar seseorang akan terganggu jika kesehatanyaterganggu.
Cacat tubuh, yaitu suatu yang menyebabkan kurangbaik dan sempurna mengenai
tubuh baik berupa kebutaan, tuli,patah kaki, tangan dan lain-lain.Cacat tubuh
ini berpengaruh padabelajar.Keadaan jasmani pada umumnya dapat dikatakan melatarbelakangi
aktivitas belajar, karenakeadaan jasmani yang sehat dansegar akan berpengaruh
lain terhadap jasmani yang lelah (Sumardi Suryabrata; 1986: 251).
2)
Faktor
Psikologi
Faktor psikologis dapat dibedakan menjadi bakat, minat,kecerdasan,
motivasi, dankemampuan kognitif. Sedangkanmenurut Slameto dalam bukunyaBelajar dan
Faktor-Faktor YangMempengaruhinyamembedakan sekurang-kurangnya ada 7 faktoryang
tergolong dalam faktor psikologis (Slameto; 1995: 55).
3)
Inteligensi
Yaitu kecakapan untuk menghadapi dan menyesuaikankeadaan ke dalam
situasi yangbaru dengan cepat dan efektif,mengetahui atau menggunakan
konsep-konsep yang abstrak secaraefektif, mengetahui relasi dan mempelajarinya
dengan cepat. Anakyang intelegensi tinggi akan lebih cepat menangkap pelajarandengan
baik, sehingga ini akan sangat mempengaruhi.
4)
Perhatian
Perhatian menurut Imam Ghozali yang dikutip Drs.Slameto adalah
keaktifan jiwa yangdipertinggi, jiwa itupunsemata-mata tertuju pada suatuobyek,
sehingga untuk menjaminhasil belajar yang baikdiperlukan perhatian terhadap
bahan yangdipelajari.
5)
Bakat
Bakat adalah kemampuan untuk belajar, dimana akanterealisasi menjadi
kecakapan yangnyata sesudah belajar atauberlatih, sehingga bakat mempengaruhi
belajar, jika bahanpelajaran sesuai dengan bakatnyamaka hasilnya lebih baik.
6)
Motif
Erat sekali dengan tujuan yang akan dicapai, sehinggamotif yang kuat
sangat diperlukandalam belajar, baik denganpelatihan-pelatihan,
pembiasaan-pembiasaan atau pengaruhlingkungan.
7)
Kesiapan
Adalah kesedian untuk memberirespons atau bereaksi, jikaanak
sudah ada kesiapan makahasil belajarnya juga baik.
8)
Minat
Adalah kecenderungan yang tetap untuk memperhatikandan mengenang
beberapakegiatan.Jika bahan pelajaan yangdiberikan sesuai dengan minat
siswaatau anak maka hasilnya akanbaik.
9)
Kematangan
Adalah suatu tingkat ataufase dalam perkembanganseseorang dimana
alat-alat tubuhnyasudah siap untukmelaksanakan kecakapan baru.
10)
Faktor
kelelahan
Walaupun sulit dibedakan, kelelahan sesorang dapatdibedakan menjadi dua
macam yaitujasmani dan rohani. Padajasmani terlihat dengan lemahlunglainya
tubuh dan timbulkecenderungan untuk membaringkan tubuhnya. Sedangkan
rohanidilihat dengan adanya kelesuan dan kebosanan sehingga minat dandorongan
menghasilkan sesuatu yang hilang.
b)
Faktor ekstern
Slameto dalam bukunya mengelompokkan menjadi tiga faktoryaitu faktor
keluarga,sekolah, dan masyarakat.
1)
Faktor
keluarga, bagaimana cara orangtua mendidik, relasi antara anggota keluarga,
suasana rumah tangga, dan keadaan ekonomi keluarga.
2)
Faktor
sekolah, mencakup metode mengajar, kurikulum, relasi guru dengan siswa, siswa
dengan siswa, disiplin sekolah, pelajaran, waktu sekolah, dan lain-lain.
3)
Faktor
masyarakat, antara lain seberapa jauh kegiatan anak dalam masyarakat, media
masa, teman bergaul, bentuk kehidupanmasyarakat, dan lain-lain.
Cara orangtua mendidik anaknya dalam membaca al-Quransangat berpengaruh, karena merupakan lembaga pendidikan
yangpertama dan utama. Keluargaberperan sangat dominan dalamkeberhasilan anak.
d.
Ada beberapa
kriteria yang digunakan untuk menilai kemampuan membaca al-Quranadalah:
a)
Menguasai
makhorijul huruf, yaitu keluarnya bunyi huruf darimulut.
b)
Menguasai
tajwid, antara lain hukum nun mati atau tanwin (idzhar halqi, ikhfa haqiqi,
idgham bighunnah, idgam bila ghunnah, iqlab), hukum mim sukun (idgham
mimi, idzhar syafawi, ikhfa syafawi) ghunnah musyaddadah, mad,
lafal jalalah, qalqalah, al qamariyah dan syamsiyah, dan hukum
tajwid lainya.
c)
Benar dan
lancar
d) Tartil, yaitu membaca dengan pelan-pelan perhuruf
(Dachlan Salim Zarkasi; 1978).
Dari
kriteria di atas penelitimenggunakan tiga indikator yaitu:
a)
Kelancaran
Kelancaran berasal dari kata lancar yang diberi imbuhan ke danan yang
berarti cepat,kencang (tidak tersangkut-sangkut), tidaktersendat-sendat (Depdikbud;
2005: 465). Maksudnya adalah dalam membaca al-Quran
anakdapat membaca lancar, tidak tersendat-sendat, tidak
tersangku-sangkut,sehingga kelancaran dikatakansebagai salah satu indikatorkemampuan
membaca al-Quran siswa.
b)
Kafasihan
Fasih adalah susunan kata-katayang indah dan tidak terdapatkejanggalan
dalammenyebutkan huruf (M. Shodiq; 1991: 88).Fasih sangat berkaitandengan
pengucapan lisan danmakharijul huruf,sebagaimana arti katafasih itu
berasal dari katafashahayang artinya berbicara dengan fasih,peta lidah
(Mahmud Yunus; 1990: 318).Anak dikatakan mampu membaca al-Quran apabila iadapat berbicara dan membaca dengan fasih.Tingkat
kefasihan dalam membaca al-Quran ada
empatmacam, sebagaimana yang telah disepakati oleh ahli tajwid, antaralain:
1)
Tahqiq; yaitu membaca al-Quran
dengan menempatkan hak-hakhuruf (makharijul huruf, sifatul huruf, mad, qosr,
tarqiq, tahkim,dsb.) yang semestinya, sambilmencermati/meresapi arti
danmaknanyabagi yang telah mampu.
2)
Tartil; membaca al-Quran dengan
berlahan-lahan (tidak tergesa-gesa) sambil mencermati/meresapiarti dan makna bagi
yang telahmampu.
3)
Tadwir; membaca al-Quran dengan
sedang, antara cepat danperlahan-lahan.
4)
Hadr; membaca al-Quran dengan
cepat.
Keempat cara membaca al-Quran
tersebut wajibmenggunakan tajwid dengan menyesuaikan bacaanya (tahqiq,
tartil, tadwir, dan hadr) (Qomari Sholeh: 10).
c)
Penguasaan
Tajwid
Tajwid menurut bahasa(etimologi) adalah mendatangkan ataumembaca dengan
baik, sedang menurut Hasani Syaikh Usman ilmutajwid adalah:Ilmu untuk
mengetahui cara mengucapkan kalimat-kalimat al-Quran
(Hasani Syaikh Usman: 49).
(Asumsi hubungan antara tindakan dengan peningkatan minat
dan kemampuan membacaal-Quran)
Ada pendapat
beberapa ahli mengenai asumsi teoretik yang menyatakan bahwa minat belajar
sesuatu dapat ditumbuhkan oleh guru dengan menciptakan model belajar yang
menarik, dan jika siswa belajar disertai minat yang baik, maka akan mudah
mengerti (paham) dan mudah hafal, diantaranya:
1. Minat dapat dipelajari dan ditumbuhkan oleh
guru dengan menciptakan pembelajaran menjadi menarik, menyenangkan dan
memuaskan (Singer; 1987:78).
2. Minat merupakan landasan pokok untuk
keberhasilan suatu proses belajar; jika seorang murid memiliki minat, rasa
ingin belajar, maka akan cepat mengerti dan mengingatnya lebih baik atau hafal
(Singer;1987:78).
3. Menurut Moh. Surya, guru harus berusaha
menciptakan rangsangan yang menarik minat siswa, berupa penampilan menarik,
menggunakan berbagai metode dan teknik, serta menciptakan suasana kelas yang
menyenangkan. Sesuatu yang diminati akan lebih menarik perhatian; dengan
perhatian yang besar siswa akan melakukan pengamatan yang lebih baik; sehingga
proses dan hasil pembelajaran lebih berhasil (Surya; 2004:72)
Atas dasar asumsi seperti
di atas, maka dapat ditarik simpulan, berupa dugaan sementara atas hipotesis
tindakan: bahwa “penggunaan Multimedia Interaktif Macromedia Flashyang
menarik dan menyenangkan diduga dapat meningkatkan minat belajar siswa, dan
dengan minat yang tinggi dan suasana pembelajaran yang menyenangkan dapat
meningkatkan pemahaman siswa agar dapat dengan cepat menerapkannya dalam
membaca al-Quran”.
(Standar keberhasilan minat
dan kemampuan membacaal-Quran)
Atas dasar
definisi operasional di atas, ditetapkan standar keberhasilan tindakan mengenai
minat dan kemampuan membaca sebagai hasil suatu tindakan, sebagai berikut:
1.
Keberhasilan
meningkatnya minat diukur dengan tiga indikator:
a.
Perhatian,
memperhatikan dengan antusias;
b.
Curiousity: atau rasa ingin tahu;
c.
Adanya perasaan
senang; merasa puas setelah belajar.
2.
Keberhasilan
meningkatnya kemampuan membaca ditandai dengan:
a.
Kelancaran;
b.
Kafasihan;
dan
c.
Penguasaan tajwid.
Untuk lebih
memudahkan pemahaman, secara skematik kerangka teori dan logika pemikiran
mengenai hubungan antara konsep tindakan dan konsep masalah yang dipecahkan,
dapat dilihat pada gambar bagan sebagai berikut:
Tidak ada komentar:
Posting Komentar